Memendam Perasaan Marah Sama Seperti Meracuni Pikiran

Memang banyak kejadian yang memancing emosi amarah kita. Kita marah karena dunia berjalan tidak mengikut kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, orang atasan, orang bawahan dan rekan sejawat tidak melakukan apa yang kita inginkan. Begitu juga dengan orang yang sering minta bantuan, tetapi tidak pernah mengucapkan terima kasih.

Kadang-kadang terpikir mungkin orang itu tidak tahu bahwa kita membencinya. Namun, kita lupa bahwa kebencian yang disimpan hanya merugikan diri sendiri. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Apakah yang kita dapat daripada kebencian demi kebencian? Bukan hanya perkawinan yang beranak pinak. Kebencian juga menghasilkan anak, cucu, cicit dengan wajah yang lebih menakutkan. Lihatlah sejarah, di sana sudah tertulis banyak sekali catatan mengenai kebencian yang beranak pinak, kemudian menghasilkan kehidupan mengerikan.

Keengganan memaafkan bagaikan racun dalam kehidupan akan menimbulkan penyakit yang membahayakan kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah ini sama maksudnya dengan ‘memasukkan makanan beracun’ ke dalam pikiran.

Kita tidak sadar bahwa inilah sumber penderitaan. Salah satu makanan yang paling berbahaya itu ialah ‘keengganan untuk memaafkan orang lain!’

Beberapa kajian menunjukkan bahwa keengganan memaafkan orang lain akan merusakkan jasad, menyebabkan tekanan dan ketegangan. Ia juga mempengaruhi peredaran darah, sistem imunisasi, meningkatkan tekanan jantung, mengganggu kejernihan otak dan setiap organ dalam tubuh.

Kemarahan yang terpendam menyebabkan pelbagai penyakit seperti pusing, sakit pinggang, leher, perut, lesu tidak bertenaga, cemas, insomnia (tidak tidur malam), ketakutan dan akhirnya merana.

Dalam keadaan begini, kita tidak ada pilihan, kecuali belajar dan mendidik diri untuk melupakan kebencian serta mulai memaafkan orang lain. Ya sekali lagi memaafkan orang lain.

Inilah tindakan yang amat sukar dilakukan pada zaman ini. Berat, sukar, tidak mungkin, tidak boleh, itulah rangkaian alasan yang diberikan kepada seluruh upaya untuk memaafkan orang lain.

Oleh karena itu sifat Asma’ul Husna Allah Al-Ghaffar, perlulah kita amalkan dalam diri kita. Al Ghaffar berarti mudah memaafkan orang lain seperti yang disebutkan oleh ayat al-Quran melalui firman-Nya yang artinnya:

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (Surah an Nisa’, ayat 149).

Perbuatan memaafkan pasti menyembuhkan siapa saja yang rela memaafkan. Ia bagai melepaskan beban berat yang lama tergalas pada bahu, demikianlah rasanya ketika kita rela memaafkan orang lain.

Bernie Siegel dalam karyanya Love, Medicine and Miracles’ membuat kompilasi 57 kisah keajaiban pesakit kanker. Pesakit yang disahkan menghidap kanker ini telah melakukan sendiri ’program memaafkan’.

Mereka menghentikan perasaan kebencian secara radikal, maka kesannya ’tekanan’ menurun secara drastik, dan tumornya mulai menyusut.

Kesimpulan, Siegel menulis: ‘…when you give love, you receive it at the same time. And letting go of the past and forgiving everyone and everything sure helps you not to be afraid’.(…apabila anda memberikan kemaafan, pada waktu yang sama anda juga menerimanya). Kesediaan untuk melepaskan perasaan masa lalu dengan cara memaafkan, membantu anda keluar daripada kebimbangan dan kekesalan’.

Musuh kita sebenarnya bukan orang yang membenci, tetapi orang yang kita benci. Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara melihat seseorang.

Sumber kebahagiaan ada dalam diri sendiri, bukan di luar. Oleh karena itu jangan risaukan mengenai orang lain, sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktentuan atau ‘tidak tahu’.

Banyak orang melakukan kesalahan karena tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa kejahatan bukan untuk orang lain, tetapi untuk mereka sendiri. Orang yang suka memaki, berbohong dan bersikap kasar sebenarnya tidak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi diri sendiri. Suatu ketika dia akan dimaki semula. Ini adalah hukum alam. Wallohu’alam bishowab..

About sandymahesta

Tidak banyak berbicara Banyak bekerja Lihat semua pos milik sandymahesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: